Audionovel Kubalas Perselingkuhanmu Dengan Cantik, Bab 1 Sebuah Pesan Rahasia

 


Sebuah panggilan masuk ke gawaiku. Kulirik sekilas karena aku sedang berkonsentrasi menyetir mobil. Kudiamkan saja dulu, nanti juga kalau penting akan menghubungiku lagi. Aku tak mau ambil resiko dengan membahayakan diriku. 


Namun rupanya si penelepon tak berhenti sampai disitu. Meski panggilan pertamanya mati tanpa diangkat, ia kembali menghubungiku dalam dua-tiga kali panggilan. Telepon pintar yang kuletakkan di lubang antara bangku sopir dan penumpang depan itu terus berbunyi dan mulai mengganggu konsentrasiku menyetir. 


Aku terpaksa membelokkan mobil ke bahu jalan dan berhenti di sana. Setelah mobil terparkir dengan aman aku kemudian mengangkat panggilan itu. 


"Hallo! Iya apa, Win?" tanyaku pada si penelepon yang namanya yang tertera di layar telepon pintarku. 


"Res! Kamu di mana?" tanya Wina. Sahabatku yang tengah bertelepon denganku itu balik bertanya. 


"Aku lagi di jalan, Win. Mau jemput anak-anak pulang sekolah," jawabku. "Ada apa?" tanyaku pada Wina.


"Res, maaf sebelumnya kalau aku lancang bertanya ini. Tapi apakah rumah tanggamu dengan Yovan baik-baik saja?" tanya Wina padaku. 


"Kamu nanya apaan sih, Win? Ya iyalah, rumah tanggaku baik-baik saja. Kamu tahu Yovan baru saja menghadiahi aku mobil di ulang tahun pernikahan kami sebulan lalu," jawabku santai.


"Iya sih, Res. Tapi sekali lagi aku tanya ya, kamu yakin?" Kembali Wina melemparkan sebuah pertanyaan padaku. 


"Aduh, udah deh. Wina kamu jangan kayak petugas polisi gitu banyak tanya. Ada apa sih? Enggak biasanya kamu begini?" Aku tak sabar dan balik bertanya pada sahabat yang sudah menemaniku selama belasan tahun sejak kami SMA itu.  


"Sebentar ya, Res. Aku kirim foto ke kamu ya," ujar Wina. Wanita itu lalu menjeda panggilan dan tak berapa lama kulihat sebuah gambar masuk dalam ruang obrolan pribadi kami. 


Gegas kuunduh gambar itu. Kulihat di sana suamiku tengah berpose mesra dengan seorang wanita muda. Betul itu Yovan suamiku. Kurang aj*r!


"Res! Hallo, Restia, kamu masih disana?" tanya Wina.


"Ini foto kapan?" tanyaku spontan.


"Aku tadi lagi jalan mau makan siang. Eh pas masuk resto di daerah sekitar kampus aku lihat suamimu lagi duduk berdua di sana makan siang sama wanita itu. Langsung aku foto. Cuma aku mau telepon kamu enggak enak karena aku bawa klien," jelas Wina yang memang berprofesi sebagai pemasaran sebuah perusahaan investasi. 


"Jadi ini di daerah Malang ya, Win? Jauh juga," ucapku sembari bergumam. 


"Iya makanya aku tadi enggak langsung ngabarin kamu. Aku takut salah orang. Kamu dan Yovan kan tinggal di Surabaya. Kenapa bisa dia berada di Malang sama perempuan lain?" jelas Wina panjang lebar. 


"Terus sekarang kamu di mana?" tanyaku pada Wina. "Maksudku kamu masih di restoran yang sama dengan suamiku atau bagaimana?" lanjutku. 


"Aku udah di perjalanan mau balik kantor, Res. Tapi tadi sebelum hubungin kamu dan ngabarin berita enggak enak ini, aku udah pastiin itu Yovan," jelas Wina lagi.


"Hah? Bagaimana bisa kamu pastiin? Kamu samperin mereka?" tanyaku dengan mata terbelalak terkejut. Sepanjang persahabatan aku dengan Wina, dia memang perempuan barbar. 


"Enggaklah, Res! Aku sudah bukan Wina yang bar-bar seperti dulu. Aku sekarang adalah Bu Winnarin Parmesti yang lembut dan elegan," sahutnya masih sempat bercanda.


Aku terkekeh mendengar penjelasannya. 


"Aku pura-pura jalan di dekat dia saat mereka mau keluar. Terus saat berpapasan aku sapa dong suamimu. Dan karena kaget dia reflek menoleh dan bisa kamu bayangin betapa terkejutnya dia," jelas Wina sambil terkekeh 


"Hah? Serius? Terus gimana?" tanyaku semakij penasaran. 


"Ya dia kelabakan. Dia langsung lepas pelukannya sama cewek itu dan berusaha basa-basi denganku. Kamu tahu tabiat Yovan kan," pungkas Wina. 


"Ih gemes! Harusnya aku ada di sana biar melotot tuh mata suamiku sampai copot!" tukasku kesal.


"Ya udah kamu tenangin diri dulu aja. Kamu pikirin langkah apa yang akan kamu ambil. Apapun keputusan yang kamu ambil aku dukung kamu sepenuhnya, Res. Kalau nanti kamu butuh bahu untuk menangis, kamu juga sudah tahu kan kemana harus datang," nasihat Wina.


"Iya, Win. Aku makasih banyak kamu udah selalu dukung aku. Meski kita beda kota pun, kamu ternyata masih selalu ada untuk aku," sahutku terharu.


Kami mengakhiri panggilan. Aku kembali menjalankan mobilku dengan pikiran yang sudah tak bisa fokus lagi. Sungguh sebenarnya apa yang disampaikan Wina barusan adalah jawaban dari kecurigaanku sebagai seorang istri selama beberapa bulan terakhir ini. 


Ya, aku memang sudah punya firasat bahwa suamiku mendua. Perubahan sikapnya begitu kentara untuk seorang yang penuh ketelitian seperti diriku ini. Aku adalah lulusan fakultas statistika. Kami selalu diajari untuk membaca peluang dan kemungkinan. Jika sebuah angka yang salah saja bisa kutemukan, apalah susahnya melihat berubahan sikap suamiku ketika mendua?


***


Ingin mendengarkan Audionovelnya secara lengkap langsung saja Subscribe Channel Youtube RUMAH CERITA atau Podcast sportify RUMAH CERITA.

Posting Komentar untuk "Audionovel Kubalas Perselingkuhanmu Dengan Cantik, Bab 1 Sebuah Pesan Rahasia"