10 Objek Wisata Sejarah Sumedang Yang Meninggalkan banyak Kisah dan Wajib di Kunjungi


Sumedang meupakan sebuah kota kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Barat, di kota ini sangat banyak meninggalkan memori tentang peperangan yang terjadi ketika melawan penjajah. Selain itu kota yang terkenal dengan makanan Tahu Sumedang ini, juga pernah berdiri sebuah kerajaan yakni Kerajaan Sumedang Laras.


Berikut Gudang Informasi akan mengupas 10 wisata sejarah yang ada di Kota Sumedang dan Wajib kita datangi ketika kita berkunjung ke kota ini:



1  Gunung Kunci


Gunung Kunci atau dikenal juga dengan sebutan Gunung Panjunan, merupakan salah satu objek wisata yang ada di Kota Sumedang.  Daya tarik tempat ini berupa benteng peninggalan Belanda. Benteng pertahanan yang memiliki tiga lantai ini dibangun pada tahun 1914-1917, dengan luas sekitar 2.600 m2. 


Letak tempat ini ada di perlintasan jalan raya Bandung - Cirebon dengan posisinya berada di sebelah utara Alun-alun Sumedang hanya berjarak sekitar 200 meter.



2 Wisma Gending


Tempat yang awalnya bernama Villa Nani ini, merupakan sebuah gedugn yang dibangun tahun 1889, tempat ini terletak di tengah-tengah kota Sumedang. Gedung ini sebelumnya merupakan kepunyaan keluarga RAA Martanegara pada jaman penjajahan Belanda. Tahun 1920 dan tahun 1929 beliau melakukan renovasi pada gedung Wisma ini.



3 Gedung Gendeng


Gedung Gendeng merupakan bagian dari Museum Prabu Geusan Ulun, yang didirikan tahun 1973, museum ini menyimpan semua peninggalan Pangeran Aria Soeria Atmadja.


Gedung ini di bangun pada tahun 1850 ketika Kabupaten Sumedang berada dibawah pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata atau Pangeran Sugih. Bangunan ini aslinya dibuat dari kayu dan berdinding gedeg serta berlantai batu merah, sementara atapnya dari genting. Sampai saat ini gedung Gendeng sudah mengalami beberapa kali pemugaran dan rehabilitasi.



4. Rumah Tinggal Cut Nyak Dien


Sewaktu Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang, oleh Bupati Sumedang saat itu, Pangeran Aria Soeria Atmadja ditempatkan di sebuah rumah panggung. Rumah panggung ini berada di Kampung Kaum Kelurahan Regol Wetan, tepatnya sekitar 100 meter sebelah barat Masjid Agung Sumedang. 


Di depan rumah ini terlihat plank penanda jika rumah ini bekas rumah tinggal Cut Nyak Dien. Bentuk rumah panggungnya sebagian masih asli. Terutama dinding dan lantai dari bambu. Sedangkan sebagian yang lainnya sudah diganti. Dinding rumah yang lama bentuk anyaman bambunya lebih besar dan tebal. Tiang-tiang utama yang terbuat dari kayu juga masih asli. 


Ruangan yang ada di dalamnya terdiri atas ruangan tamu, ruang keluarga, empat ruang tidur ditambah satu ruangan dapur. Menurut informasi, ruangan yang menjadi kamar Cut Nyak Dien ukurannya lebih luas. Awalnya merupakan dua kamar tidur yang dijadikan satu ruangan.



5 Benteng Gunung Palasari


Di atas Gunung Palasari yang masuk kedalam wilayah Desa Pasanggarahan Kecamatan Sumedang Selatan terdapat bangunan peninggalan zaman penjajahan Belanda. Yang mana pada puncak gunung ini terdapat delapan bangunan benteng pertahanan penjajah Belanda. Bangunan ini berupa tembok beton dengan ketebalan sekitar 60 cm. Diperkirakan benteng  ini dibangun sekitar tahun 1913 sampai 1917. Lokasi benteng mengelilingi puncak Gunung Palasari.


Benteng ini diperkirakan, dahulu digunakan sebagai gudang mesiu oleh tentara Belanda, pada waktu itu memiliki tangsi yang letaknya di Markas Kodim 0610 saat ini. Selain itu, dengan posisinya lumayan tinggi, di puncak bukit benteng ini bisa juga digunakan sebagai pos observasi.



6 Benteng Pasirlaja


Benteng Pasirlaja merupakan kompleks bangunan peninggalan Belanda. Di lokasi ini terdapat tiga buah bangunan yang kokoh dengan lokasi yang tidak terlalu berjauhan. Benteng Pasirlaja ini terletak di wilayah Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan tepatnya di Dusun Gunung Gadung. Jaraknya dari ujung Dusun Gadung, sekitar 100 meter ke timur laut.


Tinggi bangunan ini sekitar empat meter dengan satu pintu masuk di bagian depan berukuran sekitar 1 x 2 meter. Lebar bangunannya sekitar 5 meter dengan ketebalan tembok penyangga depan sekitar 60 cm. Sementara ketebalan tembok dalam bangunan benteng ini sekitar 1 meter. Untuk mengakses bangunan ini ada anak tangga yang bisa digunakan karena posisinya lebih tinggi dari jalan di depannya. Di bagian dalamnya ada satu ruangan berbentuk persegi berukuran sekitar 2,5 x 2,5 meter.


Benteng Pasirlaja ini dibangun sekitar tahun 1915 di kawasan perbukitan Pasirlaja pada ketinggian sekitar 680 meter di atas permukaan laut. Salah satu sisi bangunannya, menghadap langsung ke pusat kota Sumedang dengan jarak sekitar 2 km ke arah utara. Bangunan bungker yang memiliki jendela berfungsi sebagai tempat pengintaian segala aktivitas di pusat kota Sumedang. Dari posisi ini, pengintai bisa dengan mudah dan jelas melihat aktivitas di pusat kota Sumedang, apalagi ketika cuaca sedang cerah. 



7 Benteng Pasirkolecer


Benteng Pasirkolecer berada Dusun Gunung Gadung, Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan. Berbeda dengan Pasirlaja, Benteng Pasirkolecer berada di sebelah selatan Dusun Gunung Gadung. Lahan yang menjadi lokasi benteng Pasirkolecer ini diapit oleh lahan pesawahan.


Ada dua buah bangunan benteng yang berada di lokasi Pasirkolecer ini. Kedua benteng ini dibangun di atas lahan datar dengan ketinggian sekitar 690 meter di atas pemukaan laut. 


Untuk mengaksesnya, dari jalan besar yang menuju ke Dusun Gunung Gadung melewati jalan setapak ke arah kanan jalan besar. Jalurnya menanjak menyusuri pematang sawah kemudian harus melewati selokan sebelum sampai ke kawasan benteng Pasirkolecer. Kawasan lahan benteng Pasirkolecer berupa lahan pertanian yang ditanami berbagai jenis tanaman palawija seperti singkong dan jagung.


Berdasarkan sumber literatur, bangunan benteng Pasirkolecer berfungsi sebagai tempat istirahat para perwira Belanda dan tempat penyimpanan senjata atau amunisi. Melihat posisinya, tidak mengherankan jika sebagai tempat peristirahatan dan penyimpanan amunisi. Karena benteng Pasirkolecer ini berbeda dengan benteng Pasirlaja yang bisa melihat langsung kondisi kota Sumedang. Tempat pembangunan benteng Pasirkolecer ini lokasinya tidak langsung berhadapan dengan kota Sumedang, tapi berada di belakang atau sebelah selatan benteng Pasirlaja. Jarak benteng Pasirkolecer dengan lokasi benteng Pasirlaja sendiri sekitar 500 meter.



8 Benteng Dermaga


Benteng Darmaga merupakan benteng pertahanan penjajah Belanda yang berlokasi di wilayah Gunung Gadung. Ketinggian benteng Darmaga sekitar 710 meter di atas permukaan laut. Ketinggian ini dicapai karena benteng Darmaga berada di puncak bukit tertinggi di wilayah Dusun Gunung Gadung.


Pembangunan benteng Darmaga diperkirakan masih satu masa dengan benteng Pasirlaja dan Pasirkolecer yaitu sekitar tahun 1915.



9 Benteng Darmaga Darangdan


Berbeda dengan bangunan sejumlah benteng lainnya yang dibangun di wilayah Sumedang, bangunan benteng Darmaga ini dibangun di aliran Sungai Cipeles. 


Bangunan benteng Darmaga ini berlokasi di Lingkungan Darangdan Kelurahan Kota Kulon, sebelah barat wilayah perkotaan Sumedang. Bangunan benteng ini memanjang dari utara ke arah selatan melintasi aliran Sungai Cipeles setelah belokan. Tembok bangunannya masih berdiri dengan kokoknya, walaupun di beberapa bagian ada terlihat rusak.


Benteng ini dahulu memiliki fungsi sebagai benteng pertahanan dengan menggunakan fasilitas air sungai. Dengan memiliki pilar dan pintu air yang lebih tinggi benteng Darmaga digunakan untuk membendung air Sungai Cipeles. Jika pintu air benteng Darmaga ini ditutup, maka air yang terbendungnya akan meluber ke daerah daratan yang berada di hilirnya. Genangan air ke daratan ini digunakan oleh penjajah Belanda untuk menghambat laju gerakan musuh.



10 Kampung Muhara Desa Lewihideng


Kampung Muhara (Muara) yang berlokasi di Desa Leuwihideung merupakan sebuah kampung yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Sumedang Larang. Di Kampung ini bisa ditemui jejak peninggalan Kerajaan Tembong Agung, sebuah kerajaan yang kelak bernama Sumedang Larang.


Manurut informasi yang beredar, Prabu Guru Aji Putih yang merupakan pendiri dan raja pertama Kerajaan Tembong Agung dilahirkan di kampung ini. 


Salah satu keunikan Kampung Muhara, jumlah kepala keluarga yang mendiami Kampung Muhara adalah tujuh Kepala Keluarga yang mendiami tujuh rumah. Jumlah kepala keluraga ini tidak pernah berubah, baik bertambah maupun berkurang. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, setiap ada tambahan KK baru dengan sendirinya satu KK yang sudah ada sebelumnya akan pergi. Begitu pula dengan perginya satu KK akan digantikan oleh KK lainnya. Bagaimanapun caranya, Kampung Muhara akan tetap dihuni tujuh KK.



Sobat Gudang Informasi, itu tadi 10 objek wisata sejarah Sumedang yang wajib di kunjungi jika kalian ada di kota ini. Salam


######

Posting Komentar untuk " 10 Objek Wisata Sejarah Sumedang Yang Meninggalkan banyak Kisah dan Wajib di Kunjungi"