Bab 4 Dendam Dukun Santet

 



Setelah bunyi ledakan keras di atap, air yang berada di dalam botol di tengah ruangan tampak bergoyang-goyang.


Berapa tetes air bahkan ada yang tertumpah membasahi lantai rumah, melihat air yang ada di dalam botol bergoyang seperti mendidih, Alena yang dari tadi menatap santai, membenarkan posisi berdirinya.


Tangan kanan Alena terangkat ke atas kemudian dengan cepat tangan yang terangkat ke atas itu menarik ke bawah.


Brukk!


Terdengar bunyi tubuh tak kelihatan jatuh di hadapan mereka, setelah terdengar suara tubuh terjatuh, kedua tangan Alena terbentang kesamping.


Tangan itu dengan cepat bergerak bertemu di atas kepala Alena seperti menepuk sesuatu, dari empat penjuru rumah secara ajaib air yang berada di dalam botol melesat cepat seperti membentur sebuah tubuh.


Dalam sekejap di tempat itu terlihat satu sosok tubuh yang berdiri dengan raut muka seram dan seluruh tubuhnya berwarna hitam.


"Jin gompalda ternyata kalian tidak berubah, masih saja bodoh dan ingin diperalat oleh manusia!" hardik Alena mengejek Makhluk yang kini ada di depannya.


"Siapa kamu yang berani menghina golongan kami?" tanya sosok yang di panggil Jin Gompalda itu dengan suara menggembor marah.


"Kamu akan bunuh diri jika tahu siapa aku," jawab Alena dengan sinis.


"Dasar sombong, kamu belum tahu kemarahan kami!" bentak Jin Gompalda merasa dipermainkan.


Dengan cepat tubuh tinggi besar itu menerjang Alena, tapi setengah jalan tubuh itu bergerak sebuah sinar merah yang keluar dari tangan Alena dengan cepat menerjang tubuh makhluk itu, membuat makhluk itu terjengkang kebelakang.


Dari mulut makhluk hitam itu keluar suara raungan, beserta makian tak karuan saking marahnya.


Walaupun bagian tubuhnya merasakan sakit, tapi jin itu berlaku nekat kembali menerjang tubuh Alena.


"Gompalda, ternyata tubuh kalian saja yang besar, tapi otak kalian terlalu kecil untuk berpikir," ejek Alena lagi.


Ketika tubuh jin itu meluruk menyerangnya, kembali dengan cepat dari ujung jari Alena melesat kedua sinar bersilangan.


Sinar yang melesat bersilangan itu dengan cepat menerjang tubuh Jin Gompalda, membuat tubuh makhluk itu kembali terjengkang ke belakang.


Ketika makhluk itu bangkit, terlihat dari sela bibirnya keluar taring yang sangat panjang dengan kukunya juga berubah panjang.


"Kau sudah keterlaluan, berani menentang Jin Gompalda!" hardik Jin Gompalda dengan mata mencorong merah menatap Alena.


Dengan kondisi tubuh yang sudah berubah itu Jin Gompalda kembali menyerang Alena.

Kali ini Alena sengaja tidak mengirimkan pukulan berbentuk sinar, tapi setengah jalan makhluk  itu bergerak menyerangnya, seluruh tubuh Alena keluar cahaya seperti api berwarna merah.


Dari kepala Alena juga terlilit sebuah Mahkota berwarna merah dengan batu putih besar terpasang di keningnya.


Melihat perubahan tubuh Alena gerakan makhluk itu yang tadi menyerang, sontak tersurut mundur sejauh lima langkah ke belakang.


Alena melangkahkan kakinya maju mendekati tubuh makhluk di hadapannya yang kini terlihat berubah ketakutan.


"Bidadari ampuni aku, tolong jangan hancurkan tubuhku, aku menyesal sudah berani melawan kamu," ratap makhluk itu berkata ketakutan, dengan cepat kepalanya langsung bersujud di hadapan Alena.


"Baik aku tidak akan membunuh kamu asal kau mematuhi apa yang aku katakan," ujar Alena berkata dengan lemah lembut namun di telinga makhluk itu seperti sebuah bentakan keras.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya makhluk itu ketakutan.


"Kau jawab pertanyaanku, siapa yang mengirim kamu dan kenapa dia mengirim kamu?" tanya Alena kepada jin yang ada di depannya itu.


"Aku dikirim oleh seorang dukun untuk mengambil sukma Amor, dukun itu melakukannya atas permintaan seorang laki-laki bernama Ardi," jelas Jin Gompalda ketakutan.


"Baiklah, mulai sekarang kamu aku tugaskan melindungi rumah ini, tapi sebelum itu kamu berangkatlah ke tempat dukun yang mengirim kamu dan hancurkan pendupaan yang ada di depannya!" perintah Alena.


"Baik, aku akan lakukan," jawab Jin Gompalda dengan suara bergetar 


"Sekarang juga kamu pergi!" perintah Alena kepada Jin Gompalda dengan tegas 


Dengan cepat Jin Gompalda melesat pergi dari sana, terlihat badannya hanya tinggal jalur hitam saja.


Bersama dengan menghilangnya Jin Gompalda badan Alena yang tadinya di penuhi cahaya merah juga sudah kembali normal.


Riki dan Bik Suti yang dari tadi tegang menarik napas panjang melepas ketegangan mereka.


"Sekarang ambil air yang tersisa di dalam botol di tengah ruangan, jangan lupa siram air itu pada sebuah pohon yang lumayan jauh dari sini, supaya kalau ada kiriman lagi dia tidak bisa menemukan alamat ini," kata Alena kepada Riki.


Dengan gerakan yang gesit Riki mengambil air yang ada di dalam botol dan pergi dari sana.


Alena masuk kedalam kamar Amor yang sekarang tidak hanya matanya sudah bercahaya melainkan wajahnya juga sudah kembali memerah.


"Apa yang terjadi denganku?" tanya Amor melihat Alena masuk ke dalam kamar.


"Kamu terkena Santet Asmara, jika tidak di bantu aku pastikan kamu akan menjadi objek pemuas nafsu yang di kendalikan oleh si pengirim," jelas Alena.


"Siapa yang melakukannya kepadaku?" tanya Amor kepada Alena.


"Aku pernah bercerita mengenai dua orang pria, nah salah satu dari pria inilah yang meminta bantuan dukun untuk mengirimkan santet asmara, supaya kamu bisa bertekuk lutut kepadanya," jelas Alena kepada Amor.


"Ardi ... Kenapa dia ingin menaklukkan aku, bukankah masih banyak orang lain kalau dia mau taklukkan," desis Amor bingung.


"Keluarga orang ini merupakan pengamal sebuah cabang keilmuan, tapi untuk memperkuat dirinya mereka menumbalkan nyawa, untuk itulah dia memilih kamu untuk dijadikan tumbal kekuatan dan kekayaannya," jelas Alena kepada Amor.


Mendengar penjelasan dari Alena mata Amor terbelalak lebar memandang kepada Alena.


"Kurang ajar sekali dia, bagaimana pun caranya perbuatan yang dia lakukan harus di balas!" umpat Amor kesal.


Alena tersenyum mendengar kemarahan dari Amor, dia tersenyum dengan sangat manis melihat kemarahan Amor.


"Tidak usah dibalas, besok kamu akan mendengar berita kematiannya, tapi ingat walaupun orangnya mati tapi bahaya masih akan mengintai," jawab Alena.


"Kenapa dia bisa mati besok?" tanya Amor mendesis.


"Lihat saja besok," jawab Alena yang duduk di pinggir ranjang tempat Amora berbaring.


******


Sementara itu jauh di luar Kota Palembang, seorang dukun santet yang di kenal warga dengan nama Mbah Purwo sedang konsentrasi di kamarnya.

Mulut Mbah Purwo tiada henti komat-kamit sambil sesekali tangannya menaburkan kemenyan ke dalam pendupaan menyala di depannya.

Mbah Purwo merupakan dukun terkenal yang sering di minta bantuan oleh warga untuk mengatasi urusan mereka mulai dari jodoh, karir sampai menyantet orang.

Malam itu pekerjaan serius sepertinya sedang di lakukan oleh Mbah Purwo, seluruh pakaiannya yang serba hitam sudah basah oleh keringat.

Asap kemenyan yang mengepul dari pendupaan di depannya terus membubung tinggi memenuhi kamar tempat dia melakukan ritual.

Bersama dengan membubungnya asap kemenyan, badan Mbah Purwo juga bergoyang-goyang. 

Sementara racauan yang keluar dari mulutnya juga tiada henti justru semakin cepat.

Namun di tengah racauan mantera yang dia baca, tiba-tiba pendupaan di hadapan Mbah Purwo meledak keras.

Ledakan itu membuat sebagian arang pendupaan berhamburan bahkan ada yang sampai mengenai muka dan tubuh Mbah Purwo yang telentang.

"Kurang ajar, kekuatan siapa yang berani mengganggu pekerjaanku!" Bentak Mbah Purwo marah besar.

Tangannya tanpa merasa panas kemudian mengambil beberapa bara yang tercecer di lantai.

Mulutnya komat-kamit membaca matera pada bara api yang dia genggam, setelah itu bara api yang dia genggam dia lemparkan ke udara.

Bara itu melesat ke atas rumah, begitu menyentuh udara tinggi Bara itu berubah menjadi nyala api yang sangat besar, nyala api itu melesat cepat menuju ke Tengah Kota Palembang.

 

#####

Posting Komentar untuk "Bab 4 Dendam Dukun Santet"