Bab 3 Santet Asmara

 



Tubuh Amor tergolek lesu di kasur, matanya terlihat sayu, mata yang biasanya bercahaya nampak redup seperti hilang cahaya hidup.

Sementara orang-orang yang mengangkat tubuhnya tadi satu per satu pergi, sekarang hanya tinggal satu laki-laki di sana.


Alena yang melihat pria itu segera tahu, kalau orang yang tersisa ini merupakan pacar dari Amor yang kemarin dia lihat di dalam pikiran wanita itu.


"Kamu pasti Riki pacarnya Amor," sapa Alena kepada pria itu sekedar meyakinkan dirinya.


"Iya," jawab Riki yang bingung melihat Alena, sebab dia belum pernah melihat wanita ini.


"Aku saudara Amor yang baru datang," uhar Alena yang melihat kebingungan di wajah pria itu.


"Oooo." Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Riki.


"Apa yang terjadi dengan Amor, apakah sudah dibawa ke dokter?" tanya Alena kepada Riki.


"Itulah yang membuatku bingung, kami sudah membawanya ke dokter, tapi kata dokter Amor tidak mengalami sakit apa pun, seluruh organ tubuhnya normal," jawab Riki yang nampak kebingungan.


Alena yang mendengar jawaban dari Riki menganggukkan kepalanya, kemudian dia menoleh ke arah Bik Suti yang baru keluar dari kamar Amor.


"Bik, bisa minta tolong bawakan air mineral ke kamar Amor," ujar Alena kepada Bik Suti.


"Baik, Non," jawab Bik Suti, yang tanpa bertanya segera menuju ke dapur.


Alena berjalan memasuki kamar Amor di ikuti oleh Riki yang menguntit di belakangnya. 


Alena berdiri di tepi kasur tempat Amor terbaring, mata bidadarinya meradar seluruh tubuh Amor yang terbaring  tanpa daya.


Cukup lama Alena menatap tubuh lemah Amor, sebelum kemudian kepalanya mengangguk.


"Apa yang terjadi dengan Amor, kenapa dia menjadi seperti ini?" tanya Riki yang kebingungan melihat tubuh orang yang dia cintai itu terbaring tanpa daya.


"Aku tahu kamu percaya dengan hal gaib, karena kamu merupakan penulis cerita gaib," kata Alena sambil menatap Riki.


"Darimana kamu tahu aku penulis cerita gaib?" tanya Riki kepada Alena.


"Amor banyak cerita tentang kamu," jawab Alena berbohong.


"Benar aku penulis cerita gaib, tapi sampai sekarang aku belum pernah bersentuhan langsung dengan hal gaib, cerita yang aku tulis berdasarkan kisah dari orang lain," jawab Riki jujur.


"Sekarang saatnya kamu bersentuhan dengan hal gaib," ujar Alena kepada Riki.


"Maksudnya?" tanya Riki masih bingung.


"Kamu lihat tubuh Amor, sekarang jasadnya masih di sini bersama rohnya jadi dia masih bisa dibantu, tapi terlambat sedikit saja maka rohnya akan pergi menuju ke tempat orang yang melakukan hal ini padanya, dia terkena Santet Asmara," jawab bidadari itu dengan yakin.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Riki semakin bingung.


"Bukan saatnya menjelaskan, aku akan mengunci roh Amor supaya tidak bisa di tarik dari jauh," jawab Alena.


Dengan cepat Alena memegang ubun-ubun Amor dan segera menyalurkan kekuatan gaib bidadari yang berupa sinar warna merah.


Sinar itu menyelubungi tubuh Amor cukup lama, sebelum kemudian meresap masuk ke dalam tubuh Amor.


Riki yang melihat semua apa yang dilakukan oleh Alena nampak terkesiap, mulutnya menganga tak percaya melihat apa yang dilakukan oleh wanita di depannya itu.


Ketika Alena mengangkat tangannya dari ubun-ubun Amor, terdengar rintihan halus dari mulut Amor.


"Alena ... bantu aku...." Suara lemah keluar dari mulut Amor.


"Tenang saja aku akan membantu kamu, kamu istirahat sekarang sebab tidak akan ada yang bisa menarik roh kamu keluar," jawab Alena yang di sambut anggukan lemah dari Amor.


Alena segera memutari tubuh Amor tiga kali untuk memagari tubuh itu dengan kekuatan gaib. Ketika Alena selesai memutar tubuh Amor tiga kali dari arah pintu kamar masuk Bik Suti.


"Ini airnya, Non," ujar Bik Suti berkata sambil menyodorkan sebotol air mineral.


"Bik, apakah bisa dibawakan lima botol lagi air mineral seperti ini?" tanya Alena kepada Bik Suti.


"Bisa, Non," jawab Bik Suti sigap.


"Kalau begitu tolong bawain sekarang, Bik," ujar Alena lagi.


Mendengar apa yang diminta oleh Alena, Bik Suti kembali dengan cepat menghilang ke balik pintu.


Alena tanpa menunggu lagi segera menyalurkan kembali kekuatan berwarna merah kedalam air mineral yang ada di dalam botol itu.


Sejenak air berubah menjadi merah semua sebelum kemudian perlahan-lahan berubah menjadi putih susu.


Setelah itu Alena langsung meminumkan air itu kepada Amor, walaupun lesuh Amor nampak meminum berapa teguk air yang di sodorkan oleh Alena.


"Sekarang kamu istirahat, biar aku yang menangani masalah ini," bisik Alena kepada Amor yang walaupun masih terlihat lesu, tapi cahaya kehidupan pada matanya sudah kembali.


"Bik, tolong usapkan air ini ke seluruh tubuh Amor," ujar Alena sambil menyodorkan air di dalam botol kepada Bik Suti.


Kemudian dengan cepat tangan Alena mengambil lima botol air mineral yang ada di tangan Bik Suti, walaupun tak mengerti maksudnya, tapi Bik Suti menurut saja apa yang di katakan oleh Alena.


Air yang baru Alena ambil dari Bik Suti segera disalurkan kekuatan gaib melalui tangannya, tapi kali ini air tersebut berbeda dengan yang pertama tadi.


Air di dalam botol bukan berubah menjadi putih susu, melainkan berubah menjadi hitam pekat.


Setelah menyalurkan kekuatan pada air yang ada di dalam botol yang dia pegang, Alena segera menatap Riki yang masih memandangnya dengan takjub.


"Sekarang bukan waktunya bengong, kamu harus membantuku," ujar Alena yang membuat Riki menjadi tergagap.


"Iya, aku harus melakukan apa?" tanya Riki yang bingung harus berbuat apa.


"Jam berapa sekarang?" tanya Alena kepada Riki.


"Jam setengah enam sore," jawab Riki cepat.


"Bagus masih ada waktu, pertarungan gaib sebenarnya baru akan terjadi setelah matahari terbenam, jadi kita harus bersiap, kalau tidak dituntaskan selamanya Amor akan terancam," jelas Alena lagi kepada Riki.


"Siapa yang melakukan ini pada Amor?" tanya Riki penasaran.


"Bukan saatnya bertanya, setelah kejadian malam ini aku akan menjelaskan semuanya," jawab Alena dengan tegas.


"Kalau begitu apa yang bisa aku lakukan untuk membantu?" tanya Riki yang menjadi bersemangat.


"Kamu letakkan air ini pada empat sudut bagian dalam rumah ini, sementara yang ini letakkan tepat di tengah-tengah rumah," jelas Alena kepada Riki.


Tanpa banyak tanya Riki segera melakukan apa yang dijelaskan oleh Alena kepadanya, terlihat Riki sangat penasaran pada apa yang akan terjadi.


"Sekarang apapun yang terjadi, jangan ada yang berlari keluar dari rumah ini," jelas Alena kepada Riki dan Bik Suti.


"Apa yang kita hadapi?" tanya Riki penasaran.


"Makhluk yang berasal dari golongan jin, yang diperintahkan oleh seorang dukun atas permintaan seseorang," jawab bidadari terhukum itu dengan mantap.


Setelah itu Alena berkeliling di dalam rumah itu sebanyak tiga keliling, baru kemudian dia tegak tak jauh dari botol air yang ada di tengah ruangan.


Tepat jam enam sore angin kencang berhembus di dalam rumah tempat mereka berada.


Mulut Alena menyunggingkan senyuman penuh misteri, tapi di mata Riki senyum itu nampak menyeramkan.


"Akhirnya datang juga tamunya," desis Alena.


Belum hilang desisan Alena di atas atap terdengar benturan keras yang membuat kaget semua orang kecuali Alena.


Brakkk!

 

######


Bab 4

Posting Komentar untuk "Bab 3 Santet Asmara"