Bab 2 Bidadari Terhukum

 


Begitu sampai di rumah Amor segera memarkirkan mobilnya di garasi yang ada di samping rumahnya, sebelum membuka pintu mobil dia berkata kepada Alena.


"Untuk sementara kamu bisa menginap di sini, sampai kamu tahu kemana kamu akan pergi," ujar Amor kepada Alena.


Alena hanya mengangguk, dia segera mengikuti Amor turun dari mobilnya, mata Alena memperhatikan seluruh bagian yang ada di rumah itu.


Melihat majikannya datang, pembantu Amor buru-buru datang menghampiri, untuk membantu Amor membawakan barang-barang ke dalam rumah.


"Bik Suti, siapkan kamar dan tunjukkan Alena kamar itu, sementara dia akan menginap di sini," ujar Amor berkata tegas.


"Baik, Non! Mari Non Alena, bibik tunjukan kamarnya," ujar Bik Suti ramah kepada Alena.


"Waduh cantik sekali, pasti sahabat Non Amor di kantor ya?" tanya Bik Suti sekedar basa-basi kepada Alena sewaktu mereka berjalan.


"Bukan, Bik. Nemu di jalan," jawab Alena jujur.


"Ahh, Non bisa saja, masak secantik ini nemu di jalan," jawab Bik Suti Sambil cekikikan tak percaya.


Alena memasuki kamar yang ditunjuk wanita separuh baya itu kepadanya. Sebuah kamar yang cukup luas dengan ornamen di dalam yang keseluruhan berwarna putih.


Alena segera mandi, walaupun dia tidak mandi setahun juga tak jadi masalah, sebab keringat yang keluar dari tubuhnya mengeluarkan aroma melati.


Tok ... Tok....


Ketokan di pintu mengagetkan Alena yang duduk termenung di dekat jendela kamar sambil memandang langit di luar.


"Iya, tunggu," jawab dari dalam kamar.


"Ada apa, Bik?" tanya Alena melihat Bik Suti berdiri di depan pintu kamarnya.


"Non Alena, ditunggu Non Amor di teras samping, buat ngopi," jawab Bik Suti.


"Baik, Bik," jawab Alena singkat sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Alena kembali melangkah ke dalam kamar mematutkan dirinya di depan cermin. Dari pantulan cermin terlihat jelas tubuh Alena yang seputih pualam, dengan mata biru sementara rambutnya hitam lurus.


Keseluruhan penampilan Alena memperlihatkan keanggunan tubuh seorang bidadari yang berasal dari kayangan.

Yang mana cerita bidadari selama ini hanya ada di dalam dongeng dan legenda buat pengantar tidur anak-anak.


"Duduklah," ujar Amor, sambil mempersilakan Alena duduk disebuah kursi yang ada di depannya.


Pandangan mata Amor membentur seluruh tubuh Alena, secara tak langsung dia mengagumi kecantikan wanita yang ada di hadapannya ini.


"Terima kasih," jawab Alena sambil menarik kursi yang ada di hadapan Amor.


Alena menatap Amor dengan tatapan matanya yang bening, tapi sangat tajam seperti tatapan mata elang kepada mangsanya.


Alena tahun wanita di depannya yang bertemu dengannya baru berapa jam dalam hitungan bumi. Sementara kalau perhitungan kayangan sangat sebentar, sebab satu jam di bumi hanya satu menit waktu kayangan. Ketika menatap Amor, Alena melihat sebuah masalah menggelayuti benak Amor, tapi dia tidak mau dianggap sok tahu kecuali kalau itu menyangkut nyawa atau pun memang Amor sendiri yang bertanya.


"Apakah di kayangan ada kopi juga?" tanya Amor sekedar berbasa-basi.


"Tidak ada, minuman paling enak di kayangan merupakan air kenikmatan, yang mana air itu serupa dengan minuman susu di dunia, tapi kenikmatan minumannya hampir seribu kali lipat kenikmatan susu yang ada di dunia, ada yang mirip kopi namanya air sari, kalau di bumi sama dengan kopi Pagaralam," jelas Alena sambil tersenyum kepada Amor.


"Hampir seribu kali kenikmatan susu yang ada di dunia, kenapa kamu tak membawanya ke bumi?" tanya Amor mencoba bercanda, untuk memecah kekakuan 


"Kalau perjalanan biasa mungkin aku akan bawak, tapi kali ini perjalanan yang aku lakukan merupakan hukuman," jawab Alena sambil tersenyum, walaupun masih terlihat ada mendung bergelayut di mata Alena yang indah.


"Hukuman, jadi kamu di buang ke bumi karena hukuman, memangnya kamu melakukan kesalahan apa?" tanya Amor mencoba akrab 


"Iya, aku di buang ke bumi karena hukuman atas kesalahanku," jawab Alena lagi sambil menatap Amor yang menyimak di depannya.


"Memangnya berapa besar kesalahan yang kamu lakukan sampai kamu di buang?" tanya Amor dengan rasa penasaran.


"Sangat besar, tapi aku belum bisa menjelaskannya sekarang," jawab Alena lagi sambil menahan rasa sedih.


"Baiklah, kamu bisa tinggal di sini untuk berapa lama, sebelum kamu menemukan tempat tinggal yang baru," jawab Amor kepada Alena.


"Terima kasih, aku merasa sekarang kalau kamu merupakan saudaraku, aku akan berusaha mencari pekerjaan, mungkin aku bisa menjadi penerjemah atau konsultan di sini," jawab Alena kepada Amor.


"Memangnya kamu bisa berapa bahasa yang ada di dunia ini?" tanya Amor.


"Hampir semua bahasa," jawab Alena ringan, sembari menyeruput kopi yang ada di dalam gelasnya.


"Hampir semua bahasa?!" tanya Amor kaget bukan kepalang.


"Iya, hampir semua bahasa termasuk bahasa binatang, kenapa kaget wajar saja bukan, sebab aku bidadari," jawab Alena sembari tersenyum.


"Iya ... Iya," jawab Amor sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.


"Ada satu hal yang ingin aku katakan kepada kamu, kamu harus berhati-hati sebab aku melihat sebuah bahaya mengintai kamu," ucap Alena kepada Amor, sambil menatap tajam Amor.


"Masalah apa? Apakah masalah pekerjaan atau masalah apa?" tanya Amor penasaran.


Walaupun Amor sebenarnya tak percaya mengenai cenayang, terawang dan hal-hal lain yang menurutnya kurang nalar, tapi mengingat apa yang dikatakan Alena tentang kecelakaan waktu di mobil benar-benar terjadi, mau tidak mau Amor menjadi penasaran.


"Bukan masalah pekerjaan atau yang lainnya, melainkan masalah laki-laki," jawab Alena dengan mantap.


"Masalah laki-laki? Apa maksud kamu? Aku belum mengerti?" tanya Amor sambil menatap bingung ke arah Alena.


"Iya, sekarang kamu sedang dekat dengan seorang laki-laki, tapi ada satu orang lagi laki-laki yang mendekati kamu, tapi selama ini tidak pernah kamu gubriskan, laki-laki yang ini akan menimbulkan masalah buatmu," Jelas Alena.


"Terima kasih, tapi hari sudah malam sebaiknya kita istirahat, sebab besok aku akan kerja," jawab Amor memutus acara minum kopi yang mereka lakukan, sepertinya  sengaja menghindari pembicaraan itu.


*******


Alena yang hampir seharian ada di kamar tidak kemana-mana dan tidak melakukan apa pun. Termasuk makan dia juga tidak, sebab sebagai seorang bidadari dia bisa mengendalikan keinginan untuk makan.


Namun entah kenapa, pikirannya hampir seharian ini merasa gelisah, dia selalu teringat pada Amor, wanita yang membantunya ketika pertama kali menginjakkan kaki ke bumi dan juga memberinya tumpangan tempat tinggal.


"Apa yang harus aku lakukan, kenapa pikiranku selalu ingat pada Amor?" batin Alena berkata gelisah.


Untuk membuang rasa sumpeknya dia dengan cepat keluar dari dalam kamar dan menuju ke dapur untuk membantu pekerjaan Bik Suti.


"Ada yang bisa aku bantu, Bik?" tanya Alena kepada Bik Suti yang terlihat sibuk di dapur.


"Nggak usah, Non. Biar bibik saja yang mengerjakannya, Non Alena sebaiknya istirahat saja," jawab Bik Suti melihat Alena ingin membantunya.


"Bik, kalau kantor Amor di daerah mana, Bik?" tanya Alena kepada Bik Suti.


"Bibik kurang tahu pasti, Non. Namun kalau bibik tak salah ingat kantornya di daerah Jakabaring, setahu bibik sih begitu," jawab Bik Suti.


"Daerah Jakabaring," ujar Alena menegaskan lagi.


"Setahu bibik sih seperti itu, tapi kurang tahu pasti juga sih, emang ada apa, Non?" tanya Bik Suti penasaran.


"Tidak apa-apa, Bik. Aku merasa ada bahaya yang mengintai Amor," jawab Alena sekenanya.


"Ahhh, mungkin perasaan Non Alena saja," jawab Bik Suti.


Tok ... Tok ... 


Pintu depan tiba-tiba ada suara ketokan, dengan cepat Bik Suti bersama Alena berlari ke depan.


Begitu pintu terbuka di depan pintu terlihat banyak orang, orang-orang itu terlihat sedang membopong tubuh Amor.


######


Bab 3

Posting Komentar untuk "Bab 2 Bidadari Terhukum "